KITA MENYATU NAMUN TERPISAH
25
Maret 2002/08.45 wib
Bukankah kita masih satu?
Dalam teriakan gema malam
Dalam tarian riang gelombang
Ah, begitu goyah dan lemahnya
Kentara hati di gelap suram
Sebenarnya kita masih satu
Dalam berkaca berlapis rasa cinta
Berliku dan setapak hati
Menemukan sebatang tunas dalam hutan belukar sunyi
Akankah kau jadi arah
Hingga dapat ku menangkap kesan
manis
Dalam senyuman manis itu?
Akankah kau jadi pelita
Dalam tenda-tenda yang dikelilingi
binatang berbisa
Karena dikau kasihku
Sampai kerlap-kerlip kunang-kunang
saat malam menerkam
Daku tak mau mati di sini
Karena disini nisanku tiada tertanam
Aku ingin ke pantai, bermain ombak
Memandang cakrawala sejauh mungkin
Berarak mata mendekap sejauh lepas
Mendaki hasrat terjatuh di terjalnya
bebatuan
Keras seperti hati
Mendekam gua sempit terhalang sarang
laba-laba nan bau, pengap
Aku tersiksa
Pergi ku mencari kata sayang yang
hilang
Di telan angin-angin rakus yang
menerpa
Saat pergi jauh, aku nelangsa
Jauh lengkungan jiwa yang resah
Menatap kecewa, jauh tak tergapai
Memandangmu, menari di riak
gelombang
Suara yang makin tak dengar jelas
Telingaku tuli, aku terpisah
Apatah dikau mengulurkan tali keras
yang terus kunanti
Untuk berpegang dan kau tarik dengan
segenap tenagamu
Embun murnimu ku harap, hingga
dahaga terobati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar