Rabu, 15 Januari 2014

KITA MENYATU NAMUN TERPISAH

KITA MENYATU NAMUN TERPISAH
25 Maret 2002/08.45 wib

Bukankah kita masih satu?
Dalam teriakan gema malam
Dalam tarian riang gelombang
Ah, begitu goyah dan lemahnya
Kentara hati di gelap suram

Sebenarnya kita masih satu
Dalam berkaca berlapis rasa cinta
Berliku dan setapak hati
Menemukan sebatang tunas dalam hutan belukar sunyi

Akankah kau jadi arah
Hingga dapat ku menangkap kesan manis
Dalam senyuman manis itu?

Akankah kau jadi pelita
Dalam tenda-tenda yang dikelilingi binatang berbisa
Karena dikau kasihku
Sampai kerlap-kerlip kunang-kunang saat malam menerkam

Daku tak mau mati di sini
Karena disini nisanku tiada tertanam
Aku ingin ke pantai, bermain ombak
Memandang cakrawala sejauh mungkin

Berarak mata mendekap sejauh lepas
Mendaki hasrat terjatuh di terjalnya bebatuan
Keras seperti hati
Mendekam gua sempit terhalang sarang laba-laba nan bau, pengap
Aku tersiksa

Pergi ku mencari kata sayang yang hilang
Di telan angin-angin rakus yang menerpa
Saat pergi jauh, aku nelangsa

Jauh lengkungan jiwa yang resah
Menatap kecewa, jauh tak tergapai
Memandangmu, menari di riak gelombang
Suara yang makin tak dengar jelas
Telingaku tuli, aku terpisah

Apatah dikau mengulurkan tali keras yang terus kunanti
Untuk berpegang dan kau tarik dengan segenap tenagamu

Embun murnimu ku harap, hingga dahaga terobati

Tidak ada komentar: