SANG DATUK YANG TAK MUNCUL (LAGI)
KETIKA ADZAN
Mei 2012
Subuh
dingin, dikau datang penuh wibawa. Jutaan malaikat turun membawa karung-karung
pahala bagi manusia. Selepas azan kumandang, kuintip dikau lewat kain-kain
jendela lusuh di musollah tua. Ah, akhirnya kudengar besi-besi reot terseret
berbunyi khas, gerbang rumahmu terbuka. Alhamdulillah, kita masih berjamaah.Allah
yang maha membolak balikan hati, tetapkanlah hati kami selalu dalam hidayah
sejati. Bersua cita bertemu malaikatmu di subuh ini, untuk hajat kami, untuk
hidup kami dan untuk perjalanan kami ke –sebelas alam selanjutnya nanti.
Hidup
adalah roda bulat bagi kebanyakan orang. Namun bagiku hidup adalah sebuah
petak-petak takdir yang dipagari kebaikan dan kejahatan. Pematangnya adalah
nurani dan akal manusia untuk menapaki hidup ini.Hidup adalah petak-petak
seperti kanvas tempat Allah dan kita berjanji di lauhil mahfudz. Adakalanya,
takdir terasa kejam bagi mereka yang tak beriman. Tatkala Allah melupakan
ingatan kita yang lemah dan sering dijadikan tuhan kedua. Mereka protes dalam
sebuah tafsir-tafsir tiadalah berakal. Mudah-mudahan kita termasuk orang yang
beriman dan pintar. Datuk
berambut putih bersahaja pandai bersenandung nada-nada. Empunya mobil putih
keluaran antik keras bunyinya. Tiada kita bersua lagi di Ramadhan ini, beringat
masing-masing diri dan jamaah, belajar mengaji dan berdakwah walau gentar di
atas mimbar, daku tahu, belajar dunia tidaklah mudah.
Lagi,
seakan kematian sangat dekat diubun-ubun daku, walau diri masih tidak mau mati
masih ragu. Betul kata sahabat Ali, kematian itu telah diikat diubun-ubun
manusia. Terlalu mudah bagi malaikat maut menariknya, namun terlalu susah dan
pedih bagi kita yang merasakannya. Ketahuilah,
bahwa Allah tetap mengingatkan dan mendeskripsikan tentang janji-janji kita
kepada-Nya. Bukankah ada Rasul yang jumlah ribuan? Bukankah ada nabi yang
jumlah jua ribuan? Bukankah tercipta orang soleh dan zalim? Bukankah ada siang
dan malam, bukankah ada Quran? Bukankah ada Hadist? Dan lihatlah alam, dan jutaan
planet-planet di rotasinya yang memutar di dalam puluhan galaksi yang
terselubung debu-debu. Tiadalah kita mengerti debu-debu yang berasal dari
dosa-dosa kita. Tentu saja otak kita yang bodoh ini tiada tercerna. Dan,duhai teman,
bukankah ada kematian?
Ah,
datuk sebelah rumah, dikau tiada muncul lagi setelah azanku bersenandung,
berderit kencang hati dalam bingung, akankah daku mati nanti indah sepertimu.
Berlapis senyum, bercucur keringat, banyak amanat. Dikau mengakhirinya dengan
indah selepas memimpin jamaah subuh kami. Ya Allah, bagaimana denganku nanti?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar