Kamis, 16 Januari 2014

SANG DATUK YANG TAK MUNCUL (LAGI) KETIKA ADZAN
            Mei 2012
 Subuh dingin, dikau datang penuh wibawa. Jutaan malaikat turun membawa karung-karung pahala bagi manusia. Selepas azan kumandang, kuintip dikau lewat kain-kain jendela lusuh di musollah tua. Ah, akhirnya kudengar besi-besi reot terseret berbunyi khas, gerbang rumahmu terbuka. Alhamdulillah, kita masih berjamaah.Allah yang maha membolak balikan hati, tetapkanlah hati kami selalu dalam hidayah sejati. Bersua cita bertemu malaikatmu di subuh ini, untuk hajat kami, untuk hidup kami dan untuk perjalanan kami ke –sebelas alam selanjutnya nanti.

Hidup adalah roda bulat bagi kebanyakan orang. Namun bagiku hidup adalah sebuah petak-petak takdir yang dipagari kebaikan dan kejahatan. Pematangnya adalah nurani dan akal manusia untuk menapaki hidup ini.Hidup adalah petak-petak seperti kanvas tempat Allah dan kita berjanji di lauhil mahfudz. Adakalanya, takdir terasa kejam bagi mereka yang tak beriman. Tatkala Allah melupakan ingatan kita yang lemah dan sering dijadikan tuhan kedua. Mereka protes dalam sebuah tafsir-tafsir tiadalah berakal. Mudah-mudahan kita termasuk orang yang beriman dan pintar. Datuk berambut putih bersahaja pandai bersenandung nada-nada. Empunya mobil putih keluaran antik keras bunyinya. Tiada kita bersua lagi di Ramadhan ini, beringat masing-masing diri dan jamaah, belajar mengaji dan berdakwah walau gentar di atas mimbar, daku tahu, belajar dunia tidaklah mudah.

Lagi, seakan kematian sangat dekat diubun-ubun daku, walau diri masih tidak mau mati masih ragu. Betul kata sahabat Ali, kematian itu telah diikat diubun-ubun manusia. Terlalu mudah bagi malaikat maut menariknya, namun terlalu susah dan pedih bagi kita yang merasakannya. Ketahuilah, bahwa Allah tetap mengingatkan dan mendeskripsikan tentang janji-janji kita kepada-Nya. Bukankah ada Rasul yang jumlah ribuan? Bukankah ada nabi yang jumlah jua ribuan? Bukankah tercipta orang soleh dan zalim? Bukankah ada siang dan malam, bukankah ada Quran? Bukankah ada Hadist? Dan lihatlah alam, dan jutaan planet-planet di rotasinya yang memutar di dalam puluhan galaksi yang terselubung debu-debu. Tiadalah kita mengerti debu-debu yang berasal dari dosa-dosa kita. Tentu saja otak kita yang bodoh ini tiada tercerna. Dan,duhai teman, bukankah ada kematian?

Ah, datuk sebelah rumah, dikau tiada muncul lagi setelah azanku bersenandung, berderit kencang hati dalam bingung, akankah daku mati nanti indah sepertimu. Berlapis senyum, bercucur keringat, banyak amanat. Dikau mengakhirinya dengan indah selepas memimpin jamaah subuh kami. Ya Allah, bagaimana denganku nanti?   

Tidak ada komentar: