Kamis, 16 Januari 2014

AH, KABAWETAN

AH, KABAWETAN
22 April 2012

Bicara kami dalam tanjakan terjal di lekuk tubuhmu,ratap menatap masa depan ataukah seonggok makan. Kami rengkuh dan bertanya alam betapa kayanya dikau kabawetan. Di bawah kaki-kaki kering kami, nan luka terhujam batuan-batuan nan telah bertuan, kala kami tertawa, kala kami bercanda di antara rapatnya daun-daun bak telinga,segar nan mahal. Percayalah, jangan kami bertanya betapa menusuk sela kerongkongan ataukah menembus usus-usus yang telah berlubang. Kerajaanmu dimakan waktu, dimakan usia, kami renta, dikau renta. Betapa kami mendengki kala dikau tetap dipuja, Ah kami dicerca.

Bersulap di pesatnya mata memandang dalam lukisan alam membentang. Dibarisan bukit barisan yang tiada rapi lagi dan desir-desir angin yang kian dingin. Terhenyak tanya,di titik nadir hidup, lintingan tangan hitam berurat kami berdekap menahan lapar. Nelangsa diri bertutup tudung berlingkar rotan reot kumal, seperti kumalnya rumah kami, baju anak-anak kami, dan mesjid kami yang pucat tak pernah terwarnai. Kami bagai selir, dikau adalah raja Kabawetan, dalam istana berkubah, bertalak pada kami, saat dikau telah dapat semuanya.

Simfoni hentakan gunting menelisik hati yang beku dan dingin di sini. Bagian tangan dan raga kami, berkendali pelana sepi,berliku dan menangisi ribuan plasma nutfah kami terganti dengan konsumsi jadi. Apatah kami alergi memegang rapuhnya bungkus-bungkus anti nurani? Kami tiada mengerti, nan kami tau tiadalah kami dapat bicara tentu arti.

Ah Kabawetan, dikau pendiri tembok-tembok tirani yang angkuh, tanpa retak, absolut dan tanpa sekat, tiada kami dapat mengintip ke dalamnya. Kami orang melayu dalam tingkah yang bermata besar kini telah buta, tertutup sempit, sesempit dan sesipit mata-mata mereka. Ah, Kabawetan, dikau mengagungkan suara-suara keras lantang dalam diam dan tenang, bersimpuh kami hingga terlentang dihimpit beban hidup yang menuntut untuk terus berhutang.     

Ah Kabawetan, kerajaanmu bak biduan bersuara merdu. Bernyanyi senandung nada sinis tentang meteor ekonomi. Getar pita suaramu menghantam bumi dan halaman rumah kami, menghantam ladang-ladang kami, sawah kami dan hajat hidup kami. Apatah kami mampu menghadangnya? Tiadalah tentu, karena si ular politik pelik dan kalajengking birokrasi berbisa telah mengaliri darah kami. Bersua kami setiap hari di refrain tembang-tembangnya, nan tak pernah menjadi kenangan, namun terus menjadi cerita kepedihan.


Ah Kabawetan, senjata kami hanyalah jari hitam pelinting daun-daun bertelingamu. Kami wadah indah, sebagai hilir badai janji-janji. Senjata kami hanyalah gunting kayu yang tlah lapuk, tiada pernah tajam karena memang tiada pernah disuruh asah. Kenapa Kabawetan? Karena tiadalah kami dapat memutus doktrin-doktrin hereditas nan kaku dan keras bagai batu. Tapi percayalah, kami dingin  dan lembut bagai air. Mengaliri lubang-lubang aliran nan hampir kering di tanah-tanahmu. Kami adalah air yang akan kian memberat bila dibendung.

Tidak ada komentar: