MARYAM YANG
DATANG DAN YANG PERGI...
25 Desember 2011
Tertarik
kisah terlepas, ribuan tangis tiada tertata saat dikau pergi. Daku tiada
mengerti apatah hari memahami arti diamku, raguku, penatku dan gelisahku.
Namun, ketika roda waktu dunia tlah usai merasuk perasaan hampa, berasap dan
muram durja. Dalam hujan ini, tetesannya seakan menangis menghentak bumi,
sakitkah? Perihkah? Hanya air-airnya yang tahu.
Dalam
tengadahku mengingat jalan hidup berliku, kita sebagai wayangnya disana. Aku
tahu ibu, dikau penuh lelah keikhlasan, tercampur amarah disudut benakmu. Jikala daku menangis merengek sepotong kepala
ikan penuh kuah, lezat, dibumbuhi rasa kasih sayangnya, dan candanya di
seruputan mulut mungilku, dalam gelapnya cahaya,nan tiada kita sadar bahwa
besok berhari raya. Dikau berjalan
goyangkan dunia, melompat-lompat menghindari lemparan rajam dunia yang
seringkali dirasa. Ah, jalan menuju rumah sangat susah kita capai.
Mari
ibuku, masuklah dalam istana kita, yang telah terbangun dari lempengan derita,
tonggak-tonggak amarah, batuan-batuan benci, dan dinding-dinding kelakar
menghina. Tapi kita tenang di dalamnya, karena ada cinta yang telah ditimbun
dengan metafora dunia. Karena didalamnya ada antologi hidup yang mengakar
sejati. Didalamnya ada lantunan nada
dogma-dogma kelembutan nan dikau rekam dengan frase-frase indah dari sayatan
hati. Dikau menghantam tembok yang berlumut kesombongan dan dikau menerjang
batang-batang penuh onak terlentang di jalan hidupmu, nan seringkali
menghalangi kami anakmu.
Jam
dua malam yang suram, dikau tersentak lalu terhenyak di dinding peraduan, saat
menyapa kami menggigit menghirup air soda, menggelembung menghempas kantukmu.
Kami tahu, dikau berhutang nyawa dibatas fajar. Membeli impian dengan recehan
semangat membayar, mengagumkan seseorang dengan senyum jujurmu di pelataran
pintu penuh palang-palang.
Dalam
hayalan dipucuk temaram yang terus bergoyang, kurus badanmu melayang terhembus
angin. Tiada daku tahu dikau telah sakit ibu, menahan tangisan kami yang
menusuk bagai pisau ke lubuk hatimu. Apatah dikau berharap kami menjadi orang
besar, kami tiada tahu, mereka juga tiada tahu, hanya detik waktu yang tahu,
nan kau tata seperti lipatan baju kami di lemari rotan reot yang telah terlepas
paku-paku. Nan kau sulam cita-cita kami bak jelujur di tapak sepatu kami yang
telah lepas. Saat itu pula bagai lepas cita kami disorakan cemooh yang berirama
keangkuhan.
Dalam
rebahan diri, daku bersua cerita lama dalam tersiksa, membeli lingkaran racun
nan terpaksa untuk kubeli. Daku menghentak, daku marah, daku penat. Ketika
pukulan kebencian menghantam kalbu hingga badai datang dalam raga. Daku lihat
dikau disudut tiga kamar lusuh, tersenyum penuh hasrat, penuh geliat dan yakin
tinggi, bahwa daku bakal menghujam langit, menghantar petir dan membanjiri
jiwa-jiwa kering dari kasih sayang. Lalu kita pergi, berlalu sambil tertawa
karena kita mengerti bahwa kita akan kembali kesini. Sayang ibu, kau tak tunggu
aku di tiga belas tahun menanti.
Ibu,
tiada pernah daku terucap sayang, dan lantunan lagu terima kasih disela
ubun-ubunmu yang ditumbuhi rambut nan lebat beruban. Dalam renjana merah di
batasan cakrawala, dikau seakan merana, terduduk menunggu bersua airmata. Kami
terasa hina, bersuka dalam tawa yang memenjarakan rasa bahagiamu. Ibu, bertahan
kami dalam sedih nan kau tinggal, bertahan kami mengirim kafan-kafan kasih
sayang hingga masuk ke liang. Semoga Allah mengizinkan kiriman kami hingga ke
surga, kami sangat menyayangimu ibu, namun kami tau bahwa Allah lebih
menyayangimu.
……dikau
ibuku, panutan hidupku, nenek anak-anakku, kau halus di keras kehidupan, dikau
air dalam penjara dahaga, dikau kanopi pepohonan di retakan kepanasan kami,
dikau belajar mencinta bukan mengajarkan untuk membalas. Dikau merengkuh canda di labuhan jiwa yang
tertekan perih, tiada pernah dikau ajari kecuali lukiskan teladan sejati. Dikau
ibu, anugerah dari Allah untuk kami, sayang, terlalu sebentar kami rasa
bertiti……
Dikau
pergi di tembok keramahan yang dikau
senangi, dikau pergi di rumah yang dikau isi teladani, dikau pergi di kamar
yang dikau siram kasih sayang didalamnya, dikau pergi di kasur-kasur empuk tempat kami bersua cerita tentang
dunia, dan dikau pergi dalam diam penuh ketenangan menuju ke surga yang ingin
kau pilih. Karena Allah lebih menyayangimu, dan memilihkan dikau tempat
terindah.
Tiadalah
kami bertangis mengenang surga yang dikau dapatkan, tangisan ini untuk mereka
yang telah dikau beri jilbab indahmu, untuk mereka yang telah sedekahi makanan
dibeli tiada mampu, untuk mereka yang dikau beri nafkah sebagai lampu, untuk
mereka yang dikau nasehati penuh rambu. Ibu, apatah orang baik sepertimu hanya
berumur enam puluh? Ah, bahagianya dikau, membuat iri kami yang berbuat tiada
mampu.
Ibu,
dikau berhak dapatkan surga dan singgasanaNya,karena Allah tlah berikan dikau
putaran waktu bersua amal. Dikau berhak bercebur disungai-sungai surgaNya,
karena dikau peneduh suasana. Kami berdoa ibu, dikau bertemu ayah di sana dalam
suka,tawa, bercerita tentang permainan dunia, saling memaafkankan, walaupun
pada akhirnya tidak dalam satu istana.
Semerbak
wangi peraduanmu ibu, ku elus saat daku tiada bertemu. Daku tahu, dikau
berjuang lelah hingga tarikan nafas terakhirmu. Dikau tiada bersuara, dikau
tiada membantah, dan dikau tiada daya, pasrah ketentuanNya. Ibu, daku akan
selalu memeluk dan merangkulmu dalam doa-doa. Selamat jalan ibu….
Dedicated to my mother
“Pemberi semangat dalam bukit
cita-cita”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar