Rabu, 15 Januari 2014

MARYAM YANG DATANG DAN YANG PERGI...

MARYAM YANG DATANG DAN YANG PERGI...
            25 Desember 2011


Tertarik kisah terlepas, ribuan tangis tiada tertata saat dikau pergi. Daku tiada mengerti apatah hari memahami arti diamku, raguku, penatku dan gelisahku. Namun, ketika roda waktu dunia tlah usai merasuk perasaan hampa, berasap dan muram durja. Dalam hujan ini, tetesannya seakan menangis menghentak bumi, sakitkah? Perihkah? Hanya air-airnya yang tahu.
Dalam tengadahku mengingat jalan hidup berliku, kita sebagai wayangnya disana. Aku tahu ibu, dikau penuh lelah keikhlasan, tercampur amarah disudut benakmu.  Jikala daku menangis merengek sepotong kepala ikan penuh kuah, lezat, dibumbuhi rasa kasih sayangnya, dan candanya di seruputan mulut mungilku, dalam gelapnya cahaya,nan tiada kita sadar bahwa besok berhari raya.  Dikau berjalan goyangkan dunia, melompat-lompat menghindari lemparan rajam dunia yang seringkali dirasa. Ah, jalan menuju rumah sangat susah kita capai.
Mari ibuku, masuklah dalam istana kita, yang telah terbangun dari lempengan derita, tonggak-tonggak amarah, batuan-batuan benci, dan dinding-dinding kelakar menghina. Tapi kita tenang di dalamnya, karena ada cinta yang telah ditimbun dengan metafora dunia. Karena didalamnya ada antologi hidup yang mengakar sejati.  Didalamnya ada lantunan nada dogma-dogma kelembutan nan dikau rekam dengan frase-frase indah dari sayatan hati. Dikau menghantam tembok yang berlumut kesombongan dan dikau menerjang batang-batang penuh onak terlentang di jalan hidupmu, nan seringkali menghalangi kami anakmu.
Jam dua malam yang suram, dikau tersentak lalu terhenyak di dinding peraduan, saat menyapa kami menggigit menghirup air soda, menggelembung menghempas kantukmu. Kami tahu, dikau berhutang nyawa dibatas fajar. Membeli impian dengan recehan semangat membayar, mengagumkan seseorang dengan senyum jujurmu di pelataran pintu penuh palang-palang.
Dalam hayalan dipucuk temaram yang terus bergoyang, kurus badanmu melayang terhembus angin. Tiada daku tahu dikau telah sakit ibu, menahan tangisan kami yang menusuk bagai pisau ke lubuk hatimu. Apatah dikau berharap kami menjadi orang besar, kami tiada tahu, mereka juga tiada tahu, hanya detik waktu yang tahu, nan kau tata seperti lipatan baju kami di lemari rotan reot yang telah terlepas paku-paku. Nan kau sulam cita-cita kami bak jelujur di tapak sepatu kami yang telah lepas. Saat itu pula bagai lepas cita kami disorakan cemooh yang berirama keangkuhan.
Dalam rebahan diri, daku bersua cerita lama dalam tersiksa, membeli lingkaran racun nan terpaksa untuk kubeli. Daku menghentak, daku marah, daku penat. Ketika pukulan kebencian menghantam kalbu hingga badai datang dalam raga. Daku lihat dikau disudut tiga kamar lusuh, tersenyum penuh hasrat, penuh geliat dan yakin tinggi, bahwa daku bakal menghujam langit, menghantar petir dan membanjiri jiwa-jiwa kering dari kasih sayang. Lalu kita pergi, berlalu sambil tertawa karena kita mengerti bahwa kita akan kembali kesini. Sayang ibu, kau tak tunggu aku di tiga belas tahun menanti.
Ibu, tiada pernah daku terucap sayang, dan lantunan lagu terima kasih disela ubun-ubunmu yang ditumbuhi rambut nan lebat beruban. Dalam renjana merah di batasan cakrawala, dikau seakan merana, terduduk menunggu bersua airmata. Kami terasa hina, bersuka dalam tawa yang memenjarakan rasa bahagiamu. Ibu, bertahan kami dalam sedih nan kau tinggal, bertahan kami mengirim kafan-kafan kasih sayang hingga masuk ke liang. Semoga Allah mengizinkan kiriman kami hingga ke surga, kami sangat menyayangimu ibu, namun kami tau bahwa Allah lebih menyayangimu.
……dikau ibuku, panutan hidupku, nenek anak-anakku, kau halus di keras kehidupan, dikau air dalam penjara dahaga, dikau kanopi pepohonan di retakan kepanasan kami, dikau belajar mencinta bukan mengajarkan untuk membalas.  Dikau merengkuh canda di labuhan jiwa yang tertekan perih, tiada pernah dikau ajari kecuali lukiskan teladan sejati. Dikau ibu, anugerah dari Allah untuk kami, sayang, terlalu sebentar kami rasa bertiti……
Dikau pergi di tembok keramahan  yang dikau senangi, dikau pergi di rumah yang dikau isi teladani, dikau pergi di kamar yang dikau siram kasih sayang didalamnya, dikau pergi di kasur-kasur  empuk tempat kami bersua cerita tentang dunia, dan dikau pergi dalam diam penuh ketenangan menuju ke surga yang ingin kau pilih. Karena Allah lebih menyayangimu, dan memilihkan dikau tempat terindah.
Tiadalah kami bertangis mengenang surga yang dikau dapatkan, tangisan ini untuk mereka yang telah dikau beri jilbab indahmu, untuk mereka yang telah sedekahi makanan dibeli tiada mampu, untuk mereka yang dikau beri nafkah sebagai lampu, untuk mereka yang dikau nasehati penuh rambu. Ibu, apatah orang baik sepertimu hanya berumur enam puluh? Ah, bahagianya dikau, membuat iri kami yang berbuat tiada mampu.
Ibu, dikau berhak dapatkan surga dan singgasanaNya,karena Allah tlah berikan dikau putaran waktu bersua amal. Dikau berhak bercebur disungai-sungai surgaNya, karena dikau peneduh suasana. Kami berdoa ibu, dikau bertemu ayah di sana dalam suka,tawa, bercerita tentang permainan dunia, saling memaafkankan, walaupun pada akhirnya tidak dalam satu istana.  
Semerbak wangi peraduanmu ibu, ku elus saat daku tiada bertemu. Daku tahu, dikau berjuang lelah hingga tarikan nafas terakhirmu. Dikau tiada bersuara, dikau tiada membantah, dan dikau tiada daya, pasrah ketentuanNya. Ibu, daku akan selalu memeluk dan merangkulmu dalam doa-doa. Selamat jalan ibu….

Dedicated to my mother

“Pemberi semangat dalam bukit cita-cita”

Tidak ada komentar: