Rabu, 15 Januari 2014

Duka dihari Lima

DUKA DI HARI LIMA
5 September 1999


September berkabut duka
Kala hujan panas merundung luka
Saat hidup kami merindukan warna
Pergi, tanpa memberi sepucuk berita

Ayah
Dalam tatapan kekaburan hidup
Selembar kenangan tergantung tak tergapai kami sanggup
Allah melihat, tapi menunggu
Tiada manusia dapat berbantah selalu

Di hari Lima duka menggores
Membuka jalan dunia lain, kami menangis
Terpandang jauh tiada tertempuh
Hanya kisah sedih, airmata yang jatuh

Di hari lima layar sepi terbuka
Tiada cahaya yang menerangi
Tiada bahagia mengobati hati mencoba rela
Dikau menjauh, berat mencoba pergi

Ayah
Di atas nisan kenangan, anakmu datang
Nan selalu indah di bunga tidur, tiada mungkin berulang
Lembar nasehat, hanya tertulis terdengar tidak
Sebuah janji, kalbu namamu tak akan retak

Selamat tinggal
Sebaris cerita dunia kita habis di pintu kubur
Dalam ku bersyahdu engkau datang mengingat

Selamat tinggal
Berucap lidah dalam isak tertahan
Di antara ketidak mengertian kita
Dalam wayang layar kehidupan
Dimana dalangnya adalah egois manusia

Dalam tangisan  terpendam
Dalam kebencian tersimpan
Dalam kasih sayang tertanam
Dalam kedengkian terkekang
Ayah, Selamat tinggal.


”Sang kitab nasehat dalam hidup”

Tidak ada komentar: