DUKA DI HARI LIMA
5
September 1999
September berkabut duka
Kala hujan panas merundung luka
Saat hidup kami merindukan warna
Pergi, tanpa memberi sepucuk berita
Ayah
Dalam tatapan kekaburan hidup
Selembar kenangan tergantung tak tergapai kami sanggup
Allah melihat, tapi menunggu
Tiada manusia dapat berbantah selalu
Di hari Lima duka menggores
Membuka jalan dunia lain, kami menangis
Terpandang jauh tiada tertempuh
Hanya kisah sedih, airmata yang jatuh
Di hari lima layar sepi terbuka
Tiada cahaya yang menerangi
Tiada bahagia mengobati hati mencoba rela
Dikau menjauh, berat mencoba pergi
Ayah
Di atas nisan kenangan, anakmu datang
Nan selalu indah di bunga tidur, tiada mungkin berulang
Lembar
nasehat, hanya tertulis terdengar tidak
Sebuah janji,
kalbu namamu tak akan retak
Selamat tinggal
Sebaris cerita dunia kita habis di pintu kubur
Dalam ku
bersyahdu engkau datang mengingat
Selamat
tinggal
Berucap lidah
dalam isak tertahan
Di antara
ketidak mengertian kita
Dalam wayang
layar kehidupan
Dimana dalangnya adalah egois manusia
Dalam tangisan
terpendam
Dalam
kebencian tersimpan
Dalam kasih
sayang tertanam
Dalam kedengkian terkekang
Ayah, Selamat tinggal.
”Sang
kitab nasehat dalam hidup”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar