Rabu, 15 Januari 2014

DAMAI SEKUNYIT

DAMAI SEKUNYIT
31 Maret 2001/23.15 wib


            Studi Work Camp Sekunyit berakhir, meninggalkan ribuan lukisan senyum dan airmata tentang sahabat, menjelang masa yang lalu dan tuntasnya hanya jadi kenangan. Selama dua sabit bulan berlalu dari perjalanan waktu. Meninggalkan bekas luka di mata hati, meninggalkan kerutan-kerutan senyum yang masih dan terus hangat dalam benak.
            Studi Work Camp sebuah perjalanan waktu yang pendek, Study Work Camp kilas balik sebuah kegiatan hidup yang singkat namun menjadi sebuah penyambung hasrat akan hasrat berjalan ke masa depan.
            Masa lalu tiadalah kita lupakan, karena menjadi pelita ke masa yang akan datang. Tapi, harapan di dalam hati ingin masa lalu ini terulang dengan segala pahit dan manis sebuah kenyataan. Study Work Camp terlihat dalam lukisan tak bersuara, tak bergerak tanpa menyapa. Mereka hanya mampu membuat hati berdegup kencang, menangis, tatkala roda waktu berputar di pinggiran perihnya suasana. Tertawa saat bergumul di manisnya malam dengan penuh rembulan.
            Amarah memuncak tatkala mentari tenggelam diantara indahnya laut Desa Sekunyit. Terkadang iri dan rindu akan kedatanganmu di sini. Jalan pasir lembut membawaku ke alam mimpi, di sapa ratusan pohon nyiur mengajakku mampir di rindang dan sejuknya desa.
            Study Work Camp waktu yang hilang dalam sempitnya fikiran, membuat amarah untuk mencari lagi waktu yang hilang ini. Kuingin hatiku seluas tanah lapang hijau nan luas tempat dimana tenda yang tiang-tiangnya terbuat dari kayu keangkuhan dan tempat kawan karib bercengkerama, menceritakan gubuk indah sebagai peraduan, puisi-puisi orang desa yang naif namun penuh kesan dan cantiknya gadis-gadis penambah semangat hidup. Ku ingin hatiku berontak bagai ombak laut yang pasang  yang membuat riang nelayan menangkap ma’ale dan ka’ite sebagai santap malam yang renyah. Aku ingin hatiku tenang di sini.
            Desa Sekunyit, wajahmu tertempel di album buram ini tersusun rapi oleh senyuman dan dihiasi pelukan erat kawan karib yang terkekang panasnya sinar mentarimu. Dari lembar ke lembar gambaran untuk membuka mata hati dan relung nurani hingga ku dapatkan diriku terbang kesana dan hinggap di pohon bakau pinggiran pantai menunggu perahu mungil membawaku ke alam damai.
            Selamat tinggal Sekunyit, yang tak tertinggalkan dalam perjalanan hidup. Selamat tinggal Study Work Camp karena waktu di dunia ini berjalan cepat hingga melupakan kenangan dan mungkin tak kukenang lagi untuk melangkah ke masa depan.



Tidak ada komentar: