DAMAI SEKUNYIT
31 Maret 2001/23.15 wib
Studi Work Camp Sekunyit berakhir,
meninggalkan ribuan lukisan senyum dan airmata tentang sahabat, menjelang masa
yang lalu dan tuntasnya hanya jadi kenangan. Selama dua sabit bulan berlalu
dari perjalanan waktu. Meninggalkan bekas luka di mata hati, meninggalkan
kerutan-kerutan senyum yang masih dan terus hangat dalam benak.
Studi Work Camp sebuah perjalanan waktu
yang pendek, Study Work Camp kilas
balik sebuah kegiatan hidup yang singkat namun menjadi sebuah penyambung hasrat
akan hasrat berjalan ke masa depan.
Masa
lalu tiadalah kita lupakan, karena menjadi pelita ke masa yang akan datang.
Tapi, harapan di dalam hati ingin masa lalu ini terulang dengan segala pahit
dan manis sebuah kenyataan. Study Work
Camp terlihat dalam lukisan tak bersuara, tak bergerak tanpa menyapa.
Mereka hanya mampu membuat hati berdegup kencang, menangis, tatkala roda waktu
berputar di pinggiran perihnya suasana. Tertawa saat bergumul di manisnya malam
dengan penuh rembulan.
Amarah
memuncak tatkala mentari tenggelam diantara indahnya laut Desa Sekunyit.
Terkadang iri dan rindu akan kedatanganmu di sini. Jalan pasir lembut membawaku
ke alam mimpi, di sapa ratusan pohon nyiur mengajakku mampir di rindang dan
sejuknya desa.
Study
Work Camp waktu yang hilang dalam sempitnya fikiran, membuat amarah untuk
mencari lagi waktu yang hilang ini. Kuingin hatiku seluas tanah lapang hijau
nan luas tempat dimana tenda yang tiang-tiangnya terbuat dari kayu keangkuhan
dan tempat kawan karib bercengkerama, menceritakan gubuk indah sebagai
peraduan, puisi-puisi orang desa yang naif namun penuh kesan dan cantiknya
gadis-gadis penambah semangat hidup. Ku ingin hatiku berontak bagai ombak laut
yang pasang yang membuat riang nelayan
menangkap ma’ale dan ka’ite sebagai santap malam yang renyah. Aku ingin hatiku
tenang di sini.
Desa
Sekunyit, wajahmu tertempel di album buram ini tersusun rapi oleh senyuman dan
dihiasi pelukan erat kawan karib yang terkekang panasnya sinar mentarimu. Dari
lembar ke lembar gambaran untuk membuka mata hati dan relung nurani hingga ku
dapatkan diriku terbang kesana dan hinggap di pohon bakau pinggiran pantai
menunggu perahu mungil membawaku ke alam damai.
Selamat
tinggal Sekunyit, yang tak tertinggalkan dalam perjalanan hidup. Selamat
tinggal Study Work Camp karena waktu
di dunia ini berjalan cepat hingga melupakan kenangan dan mungkin tak kukenang
lagi untuk melangkah ke masa depan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar