Rabu, 15 Januari 2014

TEMAN DALAM KANVAS KENANGAN

TEMAN DALAM KANVAS KENANGAN
23 April 2000/08.00 wib


            Tebal kabut menyelimuti mengembunkan airmata yang kering. Ditemaramnya siang dibawah tenda duka berwarna putih dalam kekakuan, redup. Seakan melayang duhai kawan pergi berbekal doa dan kenangan terpendam hati dalam tenang. Hidup berbatas waktu terkekang duhai kawan, dalam terpisah tak tertahan, jubah janji terpakai tanpa perjanjian karena kita tahu janji hanya milik Tuhan. Duhai kawan, dalam dua dunia yang kini telah berbeda, datang waktunya kita bersua karena perpisahan kita hanya sebatas tanah namun jauh dan terlalu jauh dari nalar. Duhai kawan, jasad tubuh terbungkus dalam, disini batas kita bercakap dan bersalam. Dalam senyum tawa persahabatan kuikat itu di tali kafan.
            Duhai kawan, tertangis dalam bukti kasih sayang tanpa pernah berucap saat beriring, dan bertatap. Duhai kawan, yang terbungkus oleh kain-kain takdir. Senantiasa ingin ku robek dan kupotong dalam permainan pragmatis dunia terkadang tiada kita sadari. Lalu ku berharap agar semua ini adalah eikasia belaka, tetapi, kabut duka telah membuka mata. Berlayar perahu di ombak gemuruh, tersadar kita terpisah di lain pulau dibatasi laut dalam tak terperih.  Lukisan suram berdebu mengganti kita, ditelan rayap-rayap berlekuk-lekuk indah. Apatah waktu kita dekat menjelma  atau jiwa kita dapat bersua nantinya.
            Berbekal  pelajaran dari dunia yang fana bagai akhir. Membangunkanku betapa sebentar waktu bermain, berkelakar, beribadah, bermaksiat dan berbuat dosa. Ah, kawan, ternyata takdir kita terikat tali simpul hidup di ubun-ubun nan mudah ditarik tapi sakit tiada terkira. Sekecil zarrahpun akan kita pertanggung jawabkan. Di hari ini kita bersama, esok ku sudah menahan lara-lara kesepian. Duhai kawan, selamat jalan beriring kesedihan. Aku disini menulis pelajaran tentang kapan waktu akan meregang.

Dedicated to Robi Cahyadi

”Kawan karib sebagai kanvas kenangan

Tidak ada komentar: