TEMAN DALAM KANVAS KENANGAN
23
April 2000/08.00 wib
Tebal
kabut menyelimuti mengembunkan airmata yang kering. Ditemaramnya siang dibawah
tenda duka berwarna putih dalam kekakuan, redup. Seakan melayang duhai kawan pergi
berbekal doa dan kenangan terpendam hati dalam tenang. Hidup berbatas waktu
terkekang duhai kawan, dalam terpisah tak tertahan, jubah janji
terpakai tanpa perjanjian karena kita tahu janji hanya milik Tuhan. Duhai kawan,
dalam dua dunia yang kini telah berbeda, datang waktunya kita bersua karena perpisahan
kita hanya sebatas tanah namun jauh dan terlalu jauh dari nalar. Duhai kawan, jasad
tubuh terbungkus dalam, disini batas kita bercakap dan bersalam. Dalam senyum
tawa persahabatan kuikat itu di tali kafan.
Duhai
kawan, tertangis dalam bukti kasih sayang tanpa pernah berucap saat beriring,
dan bertatap. Duhai kawan, yang terbungkus oleh kain-kain takdir. Senantiasa ingin
ku robek dan kupotong dalam permainan pragmatis dunia terkadang tiada kita
sadari. Lalu ku berharap agar semua ini adalah eikasia belaka, tetapi, kabut duka
telah membuka mata. Berlayar perahu di ombak gemuruh, tersadar kita terpisah di
lain pulau dibatasi laut dalam tak terperih. Lukisan suram berdebu mengganti kita, ditelan rayap-rayap
berlekuk-lekuk indah. Apatah waktu kita dekat menjelma atau jiwa kita dapat bersua nantinya.
Berbekal pelajaran dari dunia yang fana bagai akhir.
Membangunkanku betapa sebentar waktu bermain, berkelakar, beribadah, bermaksiat
dan berbuat dosa. Ah, kawan, ternyata takdir kita terikat tali simpul hidup di
ubun-ubun nan mudah ditarik tapi sakit tiada terkira. Sekecil zarrahpun akan
kita pertanggung jawabkan. Di hari ini kita bersama, esok ku sudah menahan
lara-lara kesepian. Duhai kawan, selamat jalan beriring kesedihan. Aku disini
menulis pelajaran tentang kapan waktu akan meregang.
Dedicated to Robi
Cahyadi
”Kawan karib
sebagai kanvas kenangan”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar